1.JENIS KATA SAPAAN
Selain bentuk formal dan nonformal, kata sapaan juga bisa
ditemukan dalam beberapa jenis berdasarkan tujuan penggunaannya. Maka itu,
penggunaan kata sapaan di keseharian sebaiknya tidak secara asal-asalan.
Kata sapaan harus disesuaikan dengan sosok orang yang disapa,
serta tujuan dalam menyapa.
Adapun beberapa jenis dan contoh kata sapaan berdasarkan tujuan
penggunaannya, sebagai berikut:
1. Kata sapaan yang biasa dipakai menunjukkan hubungan kerabat.
Contoh kata sapaan ini: kakek, nenek, bapak (ayah), ibu, paman, bibi, abang,
kakak, adik, ananda, mas, mbak.
2. Kata sapaan yang berbentuk kata ganti. Contohnya antara lain:
kamu, engkau, saudara, anda, tuan, nyonya, nona, dan sebagainya.
3. Kata sapaan yang menunjukkan rasa hormat. Contoh: paduka yang
mulia, yang terhormat, dan lain-lain.
4. Kata sapaan yang diikuti nama merupakan satu di antara jenis
yang sering digunakan. Contoh: saudara Hasan, bapak Susanto, ibu Amir, dan
sebagainya.
Jenis Kata Sapaan
Menurut Kridalaksana (1982), terdapat sembilan jenis atau golongan kata sapaan
dalam bahasa Indonesia.
1. Kata Ganti
Ini adalah kata-kata seperti "aku," "dia,"
"kamu," "mereka," yang digunakan untuk menggantikan nama
orang atau objek. Kata ganti membantu menghindari pengulangan kata-kata dan
menjaga kelancaran percakapan.
2. Nama Diri
Nama diri adalah kata-kata yang merujuk pada orang atau tempat tertentu dengan
menggunakan nama khusus, seperti "Galih," "Ratna," atau
"Joko." Nama diri selalu ditulis dengan huruf kapital.
3. Istilah Kekerabatan
Istilah kekerabatan adalah kata-kata yang digunakan untuk merujuk pada hubungan
keluarga, seperti "ibu," "ayah," "kakak,"
"adik." Istilah ini membantu dalam berbicara tentang anggota
keluarga.
4. Gelar dan Pangkat
Gelar dan pangkat menunjukkan status atau profesi seseorang. Kata-kata ini
digunakan untuk memberikan gelar atau pangkat kepada seseorang, seperti
"dokter," "profesor," "guru," atau
"panglima."
5. Kata Pelaku (Bentuk p+V)
Ini adalah kata-kata yang digunakan untuk merujuk pada orang atau objek yang
melakukan suatu tindakan atau pekerjaan. Contohnya, "penulis,"
"pembaca," atau "pemain."
6. Bentuk Nominal (Bentuk N+ku)
Bentuk ini digunakan untuk menunjukkan kepemilikan atau hubungan erat dengan
objek tertentu. Ini adalah kata-kata yang menggabungkan kata benda dengan
akhiran -ku, seperti "Tuhanku", "Sayangku".
7. Kata Deiksis atau Penunjuk
Kata-kata ini digunakan untuk menunjuk pada sesuatu secara spesifik dalam
konteks tertentu, seperti "sini," "situ," atau
"sana." Kata-kata ini membantu mengklasifikasi objek yang sedang
dibicarakan.
8. Kata Benda Lain
Ini adalah kata-kata yang tidak masuk dalam kategori di atas. Mereka bisa
berupa benda abstrak dan digunakan dalam berbagai konteks. Contohnya adalah
"tuan," atau "nyonya".
9. Ciri Zero atau Nol
Kata-kata ini biasanya digunakan untuk mengacu pada sesuatu yang tidak perlu
diberi identifikasi khusus. Biasanya ada suatu makna kata tanpa disertai bentuk
kata sapaan tersebut.
Itu dia beberapa contoh kata sapaan yang bisa kamu gunakan untuk membuka
obrolan, beserta pengertian kata sapaan dan jenis-jenisnya. Semoga bermanfaat!
2. JENIS-JENIS PRONOMINA
- Kata Ganti Tanya (Pronomina Interogativa)
Kata ganti tanya adalah satu dari sekian banyak jenis kata
ganti yang berfungsi sebagai kata tanya/ penanya/peminta informasi tertentu
biasanya berupa peristiwa atau kejadian, seperti: apa, bagaimana, kapan,
mengapa, siapa, di mana.
Contoh:
- Siapa
orang yang berbicara denganmu itu?
- Mengapa
kau tidak menjawab ketika dipanggilnya?
- Bagaimana
jika kita mengambil semester pendek liburan nanti?
- Kata Ganti Penghubung (Pronomina Relativa)
Kata ganti ini digunakan dan berfungsi menjadi penghubung
antara dua kalimat, kalimat awal dan kalimat akhir, atau disebut juga induk
kalimat dengan anak kalimat, seperti: yang.
Contoh:
- Mobil
yang parkir di depan sekolah itu, mencurigakan.
- Kereta
api yang terlambat tadi pagi adalah jurusan Jakarta-Bogor.
- Pemuda
yang membantu kita kemarin itu ternyata guru olahraga di sekolah adikku.
- Kata Ganti Tidak Tentu
Kata ganti yang digunakan untuk benda maupun orang yang tak
terbatas jumlahnya/quantity (kemungkinan tidak diketahui) sehingga
kita dapat mengartikan kata ganti tidak tentu digunakan untuk menunjukan benda,
kerumunan orang yang di dalamnya terdapat jumlah yang tidak menentu atau bisa
jadi sangat banyak, seperti: seseorang, para, sesuatu, masing-masing.
Contoh:
- Anak-anak
itu berlarian pulang ke rumahnya masing-masing.
- Para
orang tua berebutan kursi saat ajaran baru masuk sekolah.
- Nanti
sore, datanglah ke rumahku, aku punya sesuatu untukmu.
Kata baku adalah kata yang mengikuti kaidah bahasa Indonesia
yang telah disepakati dan ditetapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), sedangkan kata tidak baku
adalah kata yang tidak mengikuti kaidah tersebut.
3. KATA BAKU DAN NON BAKU
- Kata
Baku:
- Sesuai
dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah disepakati secara nasional.
- Dapat
ditemukan dalam KBBI.
- Memiliki
ejaan yang sesuai dengan PUEBI.
- Contoh:
"aktivitas", "risiko", "alumni",
"dengan".
- Kata
Tidak Baku:
- Tidak
sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
- Bisa
berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah.
- Tidak
selalu ditemukan dalam KBBI.
- Contoh:
"aktifitas", "resiko", "alumni" (dengan
"i"), "dng".
Contoh Tambahan:
|
Kata Baku |
Kata Tidak Baku |
|
Jenderal |
Jendral |
|
Karier |
Karir |
|
Kolesterol |
Kolestrol |
|
Manajer |
Manager |
|
Silakan |
Silahkan |
|
Sopir |
Supir |
|
Saraf |
Syaraf |
|
Subjektif |
Subyektif |
|
Syahdu |
Sahdu |
|
Teladan |
Tauladan |
|
Urine |
Urin |
|
Umat |
Ummat |
|
Zaman |
Jaman |
Pentingnya Penggunaan Kata Baku:
Memudahkan komunikasi dan menghindari salah pengertian,
Mempertahankan kemurnian dan keseragaman bahasa Indonesia, Meningkatkan
kredibilitas dalam komunikasi formal, Menunjukkan pemahaman terhadap aturan
bahasa.
Kesimpulan:
Penggunaan kata baku sangat penting dalam bahasa Indonesia,
terutama dalam komunikasi resmi dan tertulis. Dengan memahami dan
menggunakan kata baku, kita dapat berbahasa dengan lebih baik dan benar.
Fakta adalah kenyataan atau peristiwa yang benar-benar
terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya. Opini adalah pendapat atau
pandangan seseorang terhadap sesuatu, yang bersifat subjektif dan tidak dapat
dibuktikan kebenarannya.
4. FAKTA DAN OPINI
Perbedaan Utama:
- Fakta:
- Dapat
dibuktikan kebenarannya.
- Bersifat
objektif dan universal.
- Berbasis
data dan kejadian nyata.
- Opini:
- Tidak
dapat dibuktikan kebenarannya.
- Bersifat
subjektif dan personal.
- Berbasis
kepercayaan, perasaan, atau interpretasi pribadi.
Contoh:
- Fakta: "Pohon
itu berukuran 5 meter."
- Opini: "Pohon
itu sangat indah."
Peran Fakta dan Opini dalam Tulisan:
Fakta dan opini seringkali saling melengkapi dalam
tulisan. Fakta memberikan dasar informasi, sementara opini memberikan
perspektif atau analisis.
Contoh:
Dalam berita, fakta tentang kejadian kebakaran dapat
disertai opini tentang penyebab kebakaran dan dampaknya.
Kesimpulan:
Fakta dan opini adalah elemen penting dalam
komunikasi. Memahami perbedaan antara fakta dan opini membantu pembaca
untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan yang lebih tepat.


