Senin, 03 Maret 2014

Bicara Dengan Bahasa Hati


Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari hati anda.    
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula. Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya. Anda takkan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat,  atau membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.
Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda, Insya Allah!

Selasa, 25 Februari 2014

Sepuluh Budaya Malu

Kalung ‘Sepuluh Budaya Malu’

13021861221439345111
Kalung Sepuluh Budaya Malu - Dok Pribadi
Di sisi belakang kantor kami terdapat sekolah dasar. Selama ini saya tidak pernah melongok ke sekolahan itu, karena memang tidak ada keperluannya, apalagi ada pembatas dinding tembok yang tinggi. Pada pembatas itu hanya ada satu pintu penghubung.
Kemarin, tanggal 6 April 2011, hampir semua direksi dan karyawan kantor kami melalui pintu penghubung itu, mengunjungi sekolahan itu. Kami tidak mendapatkan sambutan meriah dari tuan rumah. Kami mendapati sekolah dalam keadaan kosong dan terkunci ruang-ruangnya. Kami semua berkumpul di halaman sekolah itu.
13021862351854218095
Berkumpul di Muster Point - Dok Pribadi
Ya, kami sedang melaksanakan latihan ‘tanggap darurat’, latihan evakuasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya gempa atau kebakaran. Sekolah itu menjadi tempat evakuasi (muster point). Tentu saja manajemen sudah minta ijin sebelumnya dan memang sengaja memilih saat aktivitas sekolah sudah usai, yaitu sekitar pukul 14.30 hingga 15.00 WIB. Dari sejak alarm kantor berbunyi hingga berkumpul di sekolah itu dibutuhkan waktu 8 menit. Latihan sekitar 30 menit itu berjalan dengan sukses.
Hal lainnya, melewati selasar sekolah itu, saya bisa membaca apa yang tertera di dinding dan ‘majalah dinding’. Ada pengumuman dan berbagai hasil karya para siswa. Satu ‘peringatan’ yang menarik adalah tentang budaya malu yang harus dimiliki para siswa. Berikut lengkapnya (maaf, saya salin tanpa ijin).
***
Sepuluh (10) Budaya Malu Siswa
1. Malu tidak belajar
2. Malu tidak mengerjakan PR
3. Malu membolos sekolah
4. Malu berbohong dan berdusta
5. Malu meminjam alat tulis teman
6. Malu terlambat sekolah
7. Malu tidak piket kelas
8. Malu menyontek
9. Malu bercanda dan berkelahi
10. Malu membuang sampah sembarangan
***
Karena budaya malu itu di sekolah, maka konteksnya ya untuk para siswa, terutama menyangkut kegiatan belajar. Bisa dimaklumi jika tidak tertera ‘Malu melakukan korupsi’, karena siswa jarang yang pegang jabatan dan proyek. Korupsi yang biasa dilakukan oleh para siswa adalah menyontek, dan itu sudah diakomodir dalam ‘peringatan’ itu.
Sepertinya boleh juga tulisan semacam itu ditempelkan di instansi-instansi pemerintah atau swasta, terutama yang tugasnya berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat. Tapi bisa juga sih untuk perkantoran swasta sejenis kantor kami. Hanya saja isinya perlu sedikit dimodifikasi, disesuaikan dengan konteknya. Misalnya:

Sepuluh (10) Budaya Malu Karyawan
1. Malu tidak bekerja (ngobrol sana-sini gak jelas, kecuali memang sedang tak ada kerjaan)
2. Malu jika ngasih PR kepada bawahan (kerjaan baiknya sih jangan sampai dibawa pulang)
3. Malu bolos kerja
4. Malu berbohong dan berdusta
5. Malu meminjam ‘tenaga’ teman (lempar tanggung jawab)
6. Malu terlambat bekerja, terutama sedang ada kerjaan.
7. Malu tidak piket sebagai floor warden dalam ‘tanggap darurat’
8. Malu menyontek, terutama saat mengisi test dan simulasi e-learning
9. Malu berbuat mo-limo
10. Malu membuang sampah sembarangan

Sepuluh (10) Budaya Malu Abdi Masyarakat
1. Malu melanggar sumpah jabatan
2. Malu menunda dan mempersulit pekerjaan, apalagi kok hanya gara-gara permintaan suap yang tidak terpenuhi.
3. Malu bolos kerja atau keluyuran ke tempat yang tidak semestinya (mal, tempat hiburan, dan semacamnya)
4. Malu berbohong dan berdusta
5. Malu memimpong rakyat yang harusnya segera dilayani
6. Malu terlambat bekerja, apalagi antrian sudah panjang.
7. Malu tidak piket/shif yang sudah dijadwalkan, maunya cuma nitip absen saja.
8. Malu menyontek tanda tangan atasan untuk kepentingan pribadi
9. Malu berbuat mo-limo
10. Malu membuang sampah sembarangan
Sepuluh item sepertinya sudah cukup, tidak perlu banyak-banyak, yang penting sudah melingkupi semuanya. Satu hal yang bisa membuat seseorang menjadi kurang antusias untuk komit terhadap sepuluh budaya malu itu adalah slogan “Emang Gua Pikirin”. Khusus untuk pengurusan kepada abdi negara, agar menjadi “Oke Gua Pikirin”, bisa saja saat mengurus di instansi itu sambil mengalungkan peringatan ‘Sepuluh (10) Budaya Malu Abdi Negara’ di lehernya (lihat foto), seperti kartu peserta simposium/seminar yang ukuran setengah A4 itu, sekaligus tertera nomor urut yang perlu segera dilayani. Jadi akan terbaca langsung oleh petugasnya.

Jumat, 07 Februari 2014

SENARAI NILAI MORAL


SENARAI NILAI MORAL
BIDANG 1 - PERKEMBANGAN DIRI

1.1 KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN
Keyakinan wujudnya Tuhan sebagai pencipta alam dan mematuhi segala suruhan Nya berlandaskan pegangan agama masing-masing selaras dengan prinsip Rukun Negara

1.2 AMANAH

Sikap bertanggungjawab yang boleh menimbulkan kepercayaan dan keyakinan orang lain

1.3 HARGA DIRI
Keupayaan dan keyakinan diri agar mampu memulia dan menjaga maruah diri dalam kehidupan

1.4 BERTANGGUNGJAWAB
Kesanggupan diri seseorang untuk memikul dan melaksanakan tugas serta kewajipan dengan sempurna

1.5 HEMAH TINGGI
Beradap sopan dan berbudi pekerti mulia dalam pergaulan seharian

1.6 TOLERANSI
Kesanggupan bertolak ansur, sabar dan mengawal diri bagi mengelakkan berlakunya pertelingkahan dan perselisihan faham demi kesejahteraan hidup

1.7 BERDIKARI
Kebolehan dan kesanggupan melakukan sesuatu tanpa bergantung kepada orang lain

1.8 KERAJINAN
Usaha yang berterusan penuh dengan semangat ketekunan, kecekalan, kegigihan, dedikasi dan berdaya maju dalam melakukan sesuatu perkara

1.9 KASIH SAYANG
Kepekaan dan perasaan cinta yang mendalam serta berkekalan yang lahir daripada hati yang ikhlas

1.10 KEADILAN
Tindakan dan keputusan yang saksama serta tidak berat sebelah

1.11 RASIONAL
Boleh berfikir berdasarkan alasan dan bukti yang nyata dan dapat mengambil tindakan berasaskan pertimbangan yang wajar

1.12 KESEDERHANAAN
Bersikap tidak keterlaluan dalam membuat pertimbangan dan tindakan sama ada dalam pemikiran, pertuturan atau perlakuan tanpa mengabaikan kepentingan diri dan orang lain

BIDANG 2 - KEKELUARGAAN

2.1 KASIH SAYANG TERHADAP KELUARGA
Perasaan cinta, kasih dan sayang yang mendalam dan berkekalan terhadap keluarga

2.2 HORMAT DAN TAAT KEPADA ANGGOTA KELUARGA
Memuliakan setiap anggota keluarga dengan berinteraksi dan memberi layanan secara bersopan untuk mewujudkan keluarga yang harmoni

2.3 MENGEKALKAN TRADISI KEKELUARGAAN
Menerima, menghormati dan mengamalkan sesuatu kebiasaan, adat dan kepercayaan yang diwarisi secara turun temurun dalam keluarga

2.4 TANGGUNGJAWAB TERHADAP KELUARGA
Kewajipan yang harus dilaksanakan oleh setiap individu terhadap keluarga untuk melahirkan keluarga bahagia, meningkatkan imej dan menjaga meruah keluarga

BIDANG 3 - ALAM SEKITAR

3.1 MENYAYANGI DAN MENGHARGAI ALAM SEKITAR
Kesedaran tentang perlunya memelihara dan memulihara alam sekeliling untuk mengekalkan keseimbangan ekosistem

3.2 KEHARMONIAN ANTARA MANUSIA DENGAN ALAM SEKITAR
Keadaan saling memerlukan hubungan harmonis antara manusia dengan alam sekeliling supaya kualiti kehidupan manusia dan alam sekeliling terpelihara

3.3 KEMAPANAN ALAM SEKITAR
Pengekalan keseimbangan alam sekeliling sebagai tanggungjawab bersama untuk kesejahteraan hidup

3.4 PEKA TERHADAP ISU-ISU ALAM SEKITAR
Prihatin terhadap persoalan yang berkaitan dengan alam sekeliling dan berusaha menyelesaikannya

BIDANG 4 - PATRIOTISME

4.1 CINTA AKAN NEGARA
Perasaan sayang dan bangga kepada negara serta meletakkan kepentingan negara melebihi kepentingan diri

4.2 TAAT SETIA PADA RAJA DAN NEGARA
Kepatuhan dan kesetiaan yang berkekalan kepada Raja dan Negara4.3 SANGGUP BERKORBAN UNTUK NEGARA
Kerelaan melakukan atau menyerahkan sesuatu termasuk nyawa sebagai tanda kebaktian untuk negara

BIDANG 5 - HAK ASASI

5.1 MELINDUNGI HAK KANAK-KANAK
Membela, memberi naungan dan memelihara hak kanak-kanak bagi menjamin kehidupan mereka yang sempurna

5.2 MENGHORMATI HAK WANITAMelindungi dan mengiktiraf wanita sebagai individu yang boleh memberi sumbangan dalam pembangunan keluarga, masyarakat dan Negara

5.3 MELINDUNGI HAK PEKERJA
Menghormati, menghargai dan mengiktiraf perkhidmatan, jasa dan sumbangan golongan pekerja dalam pembangunan Negara

5.4 MENGHORMATI HAK GOLONGAN KURANG BERUPAYA
Memberi layanan yang bersopan kepada golonga kurang berupaya supaya tidak berasa tersisih dan mengiktiraf mereka sebagai insan ciptaan Tuhan

5.5 MELINDUNGI HAK PENGGUNA
Membela dan memelihara hak individu untuk menjadi pengguna yang berilmu, mendapat perkhidmatan serta barangan yang berkualiti dan tidak mudah dieksploitasi

BIDANG 6 - DEMOKRASI

6.1 MEMATUHI PERATURAN DAN UNDANG-UNDANG
Menerima dan mematuhi peraturan dan undang-undang yang telah ditentukan tanpa mengira sesiapa dan di mana seseorang itu berada

6.2 KEBEBASAN BERSUARA
Kebebasan berucap dan mengeluarkan fikiran dengan batasan tertentu bagi menjaga keselamatan dan ketenteraman

6.3 KEBEBASAN BERAGAMA
Kebebasan setiap individu untuk menganuti dan mengamalkan agamanya seperti yang diperuntukkan dalam Perlembagaan Malaysia

6.4 PENGLIBATAN DIRI DALAM PEMBANGUNAN NEGARA
Kebebasan untuk melibatkan diri dalam pelbagai aktiviti pembangunan negara dengan memetuhi peraturan, undang-undang dan Perlembagaan Malaysia

6.5 SIKAP KETERBUKAAN
Bersedia memberi dan menerima pendangan, pembaharuan dan kritikan selaras dengan kebenaran fakta dan norma masyarakat Malaysia

BIDANG 7 - KEAMANAN DAN KEHARMONIAN

7.1 HIDUP BERSAMA SECARA AMAN
Hidup berbaik-baik antara satu sama lain dengan mengutamakan kedamaian dan keharmonian hidup tanpa mengira agama, bangsa dan budaya

7.2 SALING MEMBANTU DAN BEKERJASAMA
Usaha yang baik dan membina yang dilakukan bersama pada peringkat individu, komuniti atau negara untuk mencapai sesuatu matlamat

7.3 SALING MENGHORMATI ANTARA NEGARA
Menghargai dan memuliakan hubungan antara negara untuk menjamin kesejahteraan sejagat

Kamis, 06 Februari 2014

Teladan Nabi Muhammad SAW





Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW tentang Khasiat Ayat Kursi

kisah teladan nabi muhammad saw dan khasiat ayat kursiInilah Kisah teladan Nabi MuhammadSAW yang bersumber dari hadits Bukhari. Tentang dahsyatnya khasiat Ayat Kursi. Tentang rahasia yang dibeberkan oleh setan menjelang tidur. Mari kita mempraktekkan resep yang ada dalam kisah teladan Nabi Muhammad yang kurang lebih diriwayatkan dalam hadits Bukhari seperti berikut ini…

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW mewakilkan tugas untuk menjaga zakat fitrah Ramadhan kepadaku, kemudian ada seseorang mendekatiku lalu dengan bergegas dia mengambil satu genggam makanan yang dijaga itu. Dan aku pun dengan cepat menangkapnya dan aku katakan bahwasanya aku tidak segan mengadukan perkara ini kepada Rasulullah SAW.

Maka dia pun mengeluh, tuturnya: “Saya ini orang miskin yang memiliki banyak beban keluarga, dan saya amat memerlukannya.” Lalu aku lepaskan dia. Pada pagi harinya saya menemua Rasul SAW, dan sabda beliau : “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam? Jawab saya : “Dia mengeluh bahwasanya dia melarat, sampai saya tak sampai hati, maka saya lepaskan dia. Sabdanya (Rasulullah): “Dia membohongimu, dan malam nanti dia akan mendatangimu kembali

Lanjutan kisah teladan Nabi Muhammad SAW

Informasi Produk Gratis Bermutu
Alkisah, saya menjaganya makin ketat, sebab beliau (Nabi Muhammad SAW), memberitahu bahwa dia hendak mendatangiku kembali. Ternyata betul, dia hadir dan mengambil satu genggam lagi. Kemudian saya tangkap dia, dan saya katakan perihal ini akan diadukan pada Rasulullah SAW.

kisah teladan nabi muhammad sawDia menjawab sama seperti pada malam pertama, dan dia janji untuk tidak mengulanginya. Karena jawabnya itu, maka saya lepaskan dia. Dan pada pagi harinya beliau Nabi Muhammad SAW, menegur tindakan saya tadi malam (partanyaan dan jawaban sama dengan pada malam pertama).

Pada malam ke-3 saya lebih mengetatkan penjagaan, dan ternyata dia hadir kembali mendekati saya, dan melakukan seperti malam-malam sebelum itu. Saya mengatakan padanya : “Ini sudah malam yang ke-3 anda telah berjanji untuk tidak lagi mengulanginya, mengpa anda kau kembali lagi?

Jawabannya: “Lepasakan saya, dan saya berjanji mau mengajarkan kepada engkau kalimat yang dapat engkau ambil manfaatnya. Tanya saya: “Apa yang dimaksud?”

Jawabannya : “Ketika mau tidur baca olehmu ayat kursi, pasti engkau dijaga selalu oleh Allah, dan setan tiada menghampirimu hingga pagi. Lalu saya lepasakan dia, dan pada pagi hari beliau Nabi SAW, kembali bertanya : “Apa yang dilakukan tawananmu tadi malam? Jawab saya : “Dia mengajarkan beberapa kalimat kepada saya, katanya dapat diambil manfaat bagi saya, sampai saya melepasakan dia.

Tanya beliau Nabi Muhammad SAW : “Kalimat apakah itu? Jawab saya : “Dia mengatakan, bila engkau tidur, baca AYAT KURSI, pasti engkau akan selalu dijaga oleh Allah dan setan tiada menghampiri engkau sampai pagi.  Lalu beliau bersabda : “Dia berkata benar, padahal biasanya dia bohong. Tahukah kamu siapa ia? Jawab saya : “Tidak tahu.”  Kemudian beliau bersabda : “Itu adalah setan.” (HR Bukhari)
***

Kata kunci: tentang maulid nabi dan kisah teladan Nabi Muhammad

Hikmah kisah teladan Nabi Muhammad di atas adalah agar kita senantiasa membaca ayat kursi sebelum tidur. Mari petik khasiat ayat kursi yang luar biasa ini. Beritahu resep ini ke kawan anda yah…

Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian



Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.
Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.  Mudah ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.

Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.

Sabtu, 04 Januari 2014

Supervisi Diri


Supervisi Diri untuk Pertumbuhan Profesionalisme Guru

Dalam konteks pendidikan, istilah supervisi pada umumnya lebih  diartikan sebagai kegiatan pengawasan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah terhadap guru dalam upaya membantu meningkatkan profesionalisme guru. Selanjutnya, muncul pula istilah peer supervision (supervisi sejawat) yaitu kegiatan supervisi yang dilakukan bersama rekan sejawat,  saling bekerjasama guna  meningkatkan kompetensi dan kinerjanya.
Kedua bentuk supervisi  di atas bertumpu pada pengawasan seseorang oleh orang lain, baik oleh atasan maupun teman sejawat. Dalam kasus-kasus tertentu pengawasan oleh orang lain seperti ini mungkin dapat menimbulkan ketidaknyamanan psikologis. Misalnya, merasa menjadi tertekan dan risi,  seolah-olah  kehidupan kerjanya diambil alih dan dikendalikan  oleh orang lain.
Belakangan ini muncul istilah Supervisi Diri (Self Supervision), yaitu salah satu model supervisi yang memungkinkan pihak yang disupervisi (supervisee) memiliki independensi dalam bekerja, dapat mengelola diri  dan bertanggung atas pertumbuhan profesionalismenya sendiri.
Merujuk pada tulisan yang dipublikasikan www.exforsys.com, saya akan memberikan gambaran ringkas tentang  Supervisi Diri, khususnya dalam konteks pengembangan profesi guru.
Supervisi diri dapat diartikan sebagai kemampuan seorang  guru untuk memahami kemampuan diri, mengatur diri dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam rangka beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan kerjanya, sehingga pada gilirannya  dia dapat bekerja secara efektif, efisien dan produktif.
Supervisi diri harus dapat memandu seseorang dalam mengelola berbagai kegiatan dan pekerjaannya. Beberapa contoh hasil dari praktik supervisi diri yang dilakukan guru:
  • Guru dapat melakukan tugas tanpa terus-menerus harus diingatkan oleh atasan
  • Guru membuat program dan rencana kerja tertulis secara benar dan tepat.
  • Guru mampu mencurahkan segenap pikirannya dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tanpa gagal  dan tepat waktu.
  • Guru membuat  laporan tugas yang telah diselesaikannya secara tertulis
Supervisi diri memiliki aspek penting yaitu kemampuan merefleksi atas tugas-tugas yang dilakukannya, didalamnya terdiri dari 2 (dua) komponen penting,  yaitu: (1) observasi diri (self-observation) dan (2) penilaian diri (self-assessment).
Observasi diri yaitu senantiasa memperhatikan dan waspada atas apa yang Anda lakukan saat ini, di dalamnya mencakup pikiran, perasaan dan tindakan Anda sebagai guru. Sedangkanpenilaian diri adalah mengevaluasi kinerja sendiri, mengukur proses dan hasil kegiatan dan tugas-tugas yang dilakukan, termasuk di dalamnya mempertanyakan kembali dampak dan efektivitas dari supervisi diri yang sedang dikembangkannya.
Supervisi diri bukan berarti menjadikan Anda sebagai boss yang dapat bertindak semena-mena atas diri Anda sendiri (apalagi terhadap orang lain), terkait dengan pekerjaan, tetapi lebih mengarah dan menekankan pada pembentukan kesadaran dan tanggung jawab atas tugas-tugas keseharian Anda sebagai guru.
Terdapat tiga kemungkinan hasil supervisi diri: (1) hasil yang obyektif, menggambarkan keadaan dan ukuran nyata; (2) hasil yang under-estimate, menggambarkan keadaan dan ukuran di bawah kondisi nyata,  dan (3) hasil yang  over-estimate, menggambarkan keadaan dan ukuran di atas kondisi nyata.   Tentu, yang terbaik adalah supervisi yang dapat menggambarkan keadaan dan ukuran nyata dan sedapat mungkin menghindari terjadinyaunder-estimate atau over-estimate.
Beberapa pendekatan dan teknik yang dapat digunakan dalam supervisi diri:
  1. Mengkondisikan pikiran secara tepat dan memadai. Bila Anda ingin belajar bagaimana mengatur kehidupan dan tindakan Anda sendiri,  Anda harus memiliki pola pikir yang tepat. Ini berarti bahwa Anda harus yakin  pada pikiran dan hati nurani Anda sendiri  bahwa Anda bisa menjadi seseorang yang mampu bekerja secara mandiri. Salah satu cara untuk mengkondisikan pikiran adalah dengan berusaha menempatkan diri Anda pada posisi sebagai orang lain. Misalnya sebagai atasan Anda,  melalui cara ini, Anda bisa membayangkan dan memikirkan apa sebenarnya yang diharapkan dan dikehendaki atasan terhadap Anda dalam bekerja. Bagi guru, hal penting adalah berusaha memposisikan diri sebagai siswa yang merupakan  user Anda, sehingga Anda bisa menemukan apa yang dibutuhkan dan dikehendaki siswa  terhadap Anda sebagai gurunya.
  2. Membuat Checklist Keterampilan. Menyusun dan mengisi checklist atau instrumen pengumpul data akan sangat berguna untuk mengidentifikasi kelemahan dan keunggulan diri Anda, khususnya tentang keterampilan Anda dalam melaksanakan tugas-tugas keseharian Anda. Misalnya, ketika Anda hendak melihat  sejauhmana keterampilan menerapkan pendekatan saintifik dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan menggunakan Checklist atau instrumen lainnya yang sesuai, maka Anda  akan dapat menemukan kelemahan-kelemahan spesifik yang masih perlu ditingkatkan.  Idealnya,  Checklist (instrumen) didesain dan dikonstruksi sendiri sehingga bisa menentukan hal-hal spesifik apa yang ingin diungkap dan ditingkatkan. Tetapi jika Anda belum mampu mengkonstruksi sendiri,  Anda bisa memanfaatkan Checklist  (instrumen) buatan orang lain, misalnya menggunakan instrumen yang biasa digunakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah dalam melakukan supervisi kelas.  Anda juga  bisa mencari sendiri di Internet melalui bantuan Google untuk menemukan instrumen yang bisa digunakan untuk kepentingan kegiatan supervisi diri Anda.
  3. Membuat daftar tugas (to do list). Mencatat agenda rangkaian aktivitas Anda yang isinya memuat jawaban dari pertanyaan apa yang harus  saya lakukan pada hari ini? Ini adalah proses pengambilan keputusan yang tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugas sehari-hari yang bersifat rutin tetapi di dalamnya terkandung proses perbaikan, mengacu pada data yang diperoleh berdasarkan hasil kegiatan instrumentasi (Checklist).
  4. Teknik  Bercermin (mirroring technique). Anda mungkin punya idola atau mengagumi seseorang, baik tokoh dunia, tokoh nasional  atau bahkan orang-orang  di sekitar Anda, seperti: orang tua, teman sejawat, atau atasan Anda yang dianggap sukses. Anda bisa bercermin dan belajar dari mereka  tentang bagaimana cara dan gaya mereka dalam menghadapi hidup dan tantangan hidup, termasuk  dalam bekerja. Tidak ada salahnya jika Anda meniru mereka dan menjadikan mereka sebagai inspirasi bagi Anda dalam bekerja. Kendati demikian, dalam proses selanjutnya, Anda perlu  mengembangkan cara dan gaya Anda sendiri yang paling sesuai dan Anda merasa nyaman melakukannya.

Pendekatan Saintifik

Pendekatan Saintifik/Ilmiah dalam Proses Pembelajaran


Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ilmiah. Upaya penerapan Pendekatan saintifik/ilmiah dalam proses pembelajaran ini sering disebut-sebut sebagai ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan Kurikulum 2013, yang tentunya menarik untuk dipelajari dan dielaborasi lebih lanjut.
Melalui tulisan ini, saya akan sedikit bercerita tentang pendekatan saintifik/ilmiah dalam proses pembelajaran sebagaimana yang telah saya pahami selama ini. Menurut hemat saya, upaya penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam proses pembelajaran bukan hal yang aneh dan mengada-ada tetapi memang itulah yang seharusnya terjadi dalam proses pembelajaran, karena sesungguhnya pembelajaran itu sendiri adalah sebuah proses ilmiah (keilmuan).
Banyak para ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan saintifik/ilmiah, selain dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Artinya, dalam proses pembelajaran, siswa dibelajarkan dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan diajak untuk beropini apalagi fitnah dalam melihat suatu fenomena. Mereka dilatih untuk mampu berfikir logis, runut dan sistematis, dengan menggunakan kapasistas berfikir tingkat tinggi (High Order Thingking/HOT). Combie White (1997) dalam bukunya yang berjudul “Curriculum Innovation; A Celebration of Classroom Practice” telah mengingatkan kita tentang pentingnya membelajarkan para siswa tentang fakta-fakta. “Tidak ada yang lebih penting, selain  fakta“,  demikian ungkapnya.
Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Beberapa metode pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip-prinsip pendekatan saintifik/ilmiah, antara lain metode: (1) Problem Based Learning; (2) Project Based Learning; (3) Inkuiri/Inkuiri Sosial; dan (4) Group Investigation. Metode-metode ini berusaha membelajarkan siswa untuk mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari solusi  atau menguji  jawaban sementara atas suatu masalah/pertanyaan dengan melakukan penyelidikan (menemukan fakta-fakta melalui penginderaan), pada akhirnya dapat menarik kesimpulan dan menyajikannya secara lisan maupun tulisan.
Pendekatan Saintifik-Ilmiah
Pendekatan Saintifik-Ilmiah
Apakah pendekatan saintifik/ilmiah dengan langkah-langkah seperti dikemukakan di atas bisa diterapkan di semua jenjang pendidikan? Jawabannya tentu akan menjadi perdebatan keilmuan, tetapi saya memegang satu teori yang sudah kita kenal yaitu Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget yang  mengatakan bahwa mulai usia 11 tahun hingga dewasa (tahap formal-operasional), seorang individu telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu: (1) Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons; dan (2) Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.
Dengan demikian, tampaknya pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran sangat mungkin untuk diberikan mulai pada usia tahapan ini. Tentu saja, harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari penggunaan hipotesis dan berfikir abstrak yang sederhana, kemudian seiring dengan perkembangan kemampuan berfikirnya dapat ditingkatkan dengan menggunakan hipotesis dan berfikir abstrak yang lebih kompleks.
Sementara itu, Kemendikbud (2013) memberikan konsepsi tersendiri  bahwa pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran didalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut seyogyanya  dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran,  tetapi bukanlah sebuah siklus pembelajaran. Untuk lebih jelasnya tentang pendekatan ilmiah versi Kemendikbud ini Anda bisa melihatnya melalui file yang bisa Anda unduh di bawah ini:
File ini saya peroleh dari kegiatan Pelatihan Kurikulum 2013 bagi Pengawas SMA Provinsi Jawa Barat yang diselenggarakan oleh P4TK-MIPA, bertempat  di Hotel  Lembang Asri, Bandung Barat, 8 – 14 Juli 2013.

KEBAHASAAN DALAM SURAT MENYURAT

  1.JENIS KATA SAPAAN Selain bentuk formal dan nonformal, kata sapaan juga bisa ditemukan dalam beberapa jenis berdasarkan tujuan pengguna...